Manfaat Vitamin D3

Vitamin D3 atau disebut juga cholecalciferol merupakan salah satu bentuk vitamin D, sehingga pada dasarnya manfaat vitamin D3 sama dengan manfaat vitamin D. Bentuk vitamin D3 memiliki kelebihan dibandingkan varian lainnya (vitamin D2 atau ergocalciferol) karena cara kerjanya yang lebih efektif, sehingga dosis yang dibutuhkan lebih sedikit.

Secara alami cholecalciferol disintesa pada permukaan kulit dari senyawa 7-dehydrocholesterol melalui paparan sinar ultraviolet B dari cahaya matahari. Proses ini mencapai kesetimbangan dalam beberapa menit, bergantung pada beberapa faktor seperti kondisi cahaya matahari, usia kulit, dan warna kulit. Cholecalciferol kemudian mengalami proses hidroksilasi pada hati, membentuk calcifediol. Calcifediol yang terkandung dalam darah biasanya digunakan untuk menentukan jumlah vitamin D3 yang diproduksi pada kulit, atau jumlah vitamin D2 dan D3 yang terserap dalam tubuh. Calcifediol kemudian mengalami proses hidroksilasi pada ginjal membentuk calcitriol, yang merupakan bentuk hormon aktif dari vitamin D3.

Dalam skala industri, Vitamin D3 diproduksi untuk digunakan sebagai suplemen, baik dalam bentuk krim maupun suplemen makanan. Vitamin D3 diproduksi dengan memaparkan sinar ultraviolet pada senyawa 7-dehydrocholesterol yang diekstrak dari lanolin yang ditemukan pada bulu domba. Dibandingkan dengan vitamin D2 yang diproduksi dari paparan ultraviolet pada sejenis jamur, vitamin D3 lebih aman karena memiliki efek samping yang lebih sedikit.

Dengan efek samping yang minimal, vitamin D3 sangat disarankan untuk mengobati penyakit kulit. Manfaat vitamin D3 terutama adalah untuk pengobatan psoriasis. Psoriasis merupakan penyakit kulit dengan gejala kulit gatal dan bersisik. Penyembuhan psoriasis dilakukan dengan aplikasi topikal krim vitamin D, atau dengan mengonsumsi suplemen vitamin D. Vitamin D3 memiliki sifat anti-inflamasi yang sangat kuat, sehingga krim atau lotion yang mengandung vitamin D3 sangat efektif dalam mengobati luka bakar, luka kulit, dan kerusakan. Selain itu, efek antioksidan yang terkandung dalam vitamin D bermanfaat untuk mencegah kerusakan kulit dan penuaan dini pada kulit, terutama jika dikonsumsi melalui suplemen atau diet.

Sumber terbaik vitamin D adalah sinar matahari, yang akan merangsang tubuh memproduksi vitamin D. Sinar ultraviolet yang terkandung pada sinar matahari dapat mengubah vitamin D inaktif pada tubuh menjadi aktif, termasuk mengubah cholecalciferol menjadi calcitriol yang merupakan bentuk hormon aktif dari vitamin D3. Untuk memperoleh manfaat vitamin D3 secara maksimal, sangat disarankan untuk mandi sinar matahari. Produksi vitamin D3 melalui paparan sinar matahari tidak memiliki resiko kelebihan asupan vitamin D3 (hipervitaminosis D3), karena pada satu titik produksi konsentrasi cholecalciferol pada kulit akan mencapai kesetimbangan, sehingga jika terdapat kelebihan produksi cholecalciferol akan terurai dengan sendirinya. Namun karena paparan sinar matahari berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker kulit, maka mandi sinar matahari ini sebaiknya dilakukan dalam waktu terbatas, antara 10 hingga 15 menit per hari.